Menelusuri Jejak Drainase Surabaya Dari Zaman Belanda Hingga Kini
Sebagai kota yang tumbuh dari kawasan pesisir, Surabaya memiliki sejarah panjang dalam pengelolaan air. Kami di DSDABM memandang sistem drainase bukan sekadar infrastruktur teknis, melainkan warisan kota yang terus berkembang. Sejak era kolonial, Surabaya telah dibangun dengan konsep kanal atau “gracht” atau kanal-kanal besar, serupa dengan yang diterapkan di Amsterdam yang berfungsi mengalirkan air hujan secara alami menuju sungai dan laut.
Namun, seiring perkembangan kota dan kondisi geografis Surabaya yang relatif datar, sistem alami ini menghadapi tantangan baru. Ketika air laut pasang, aliran air hujan dari daratan tidak dapat mengalir kembali secara gravitasi. Oleh karena itu, kota ini membutuhkan sistem pengendalian banjir yang lebih adaptif dan modern.
Rumah pompa menjadi solusi utama dalam menjawab tantangan tersebut. Infrastruktur ini berperan sebagai penggerak aliran air dari saluran drainase ke sungai atau laut. DSDABM secara berkelanjutan melakukan peningkatan kapasitas dan optimalisasi rumah pompa agar mampu bekerja maksimal saat curah hujan tinggi.
Selain itu, boezem atau waduk penampung menjadi elemen penting dalam sistem drainase kota. Boezem berfungsi sebagai tempat “parkir” air sementara sekaligus dikembangkan sebagai ruang publik hijau yang memperindah lingkungan sekitar.
Melalui edukasi dan penyuluhan sejak dini, termasuk kepada siswa SDN, kami mengajak masyarakat ikut menjaga saluran air. Infrastruktur ini adalah milik bersama, dan kepedulian kita menentukan keberlanjutannya.
Temukan juga di:https://www.instagram.com/p/DUFrmNOkhyd/?img_index=1














